Ingat-ingatlah Hidup Tidak Semudah Yang Anda Bayangkan

Ingatlah-Hidup-Tak-Semudah-Yang-Kamu-Bayangkan-750x430

Cerita inspiratif kehidupan, mulai sejak lama Rani demikian seringkali memerhatikan Nina, rekan sekelasnya yang baru di SMA. Mereka datang dari SMP yang berlainan, serta keduanya baru sama-sama mengetahui sesudah duduk di bangku SMA sebagian bulan yang kemarin. Baik Rani ataupun Nina, keduanya terasa mujur serta suka dapat berjumpa serta sama-sama mengetahui di sekolah itu.

Nina demikian cerdas, dengan kekuatan belajar yang dapat disebutkan diatas rata-rata. Dia senantiasa dapat ikuti semuanya pelajaran dengan gampang, tahu serta tanggap secara cepat. Nina pandai dalam belajar, tidak cuma pada satu mata pelajaran saja, tetapi Nina unggul dalam semuanya mata pelajaran di kelasnya. Perihal ini pula yang buat Rani heran, walau dia sendiri sesungguhnya termasuk juga anak yang pintar serta senantiasa memperoleh ranking di SMP nya dahulu. Tetapi waktu belajar di kelas yang sama juga dengan Nina, Rani seakan tidak berkutik dengan kehadiran Nina disana, walau sikap rekannya itu sesungguhnya tidak sombong terlebih sok pandai.

Nina dapat juga berkomunikasi serta bergaul dengan baik pada kebanyakan orang, tidak cuma beberapa rekannya, bahkan juga pada guru-gurunya juga. Sikapnya demikian manis serta tulus, hingga kebanyakan orang suka padanya, bahkan juga Rani juga. Tidak cuma pandai serta ramah saja, Nina juga mempunyai paras yang manis serta murah senyum, hingga ia demikian disenangi oleh beberapa rekannya.

Awal mulanya, Rani demikian suka dapat kenal serta dekat dengan Nina, sebab anak yang satu itu benar-benar sangat supel serta ramah. Tetapi, makin lama sikap Rani mulai beralih, ia mulai lihat Nina jadi satu ancaman, baik itu untuk prestasinya ataupun untuk eksistensinya di sekolah. Rani mulai beralih serta sedikit pendiam pada rekannya itu, bahkan juga kadang-kadang ia menghindar waktu mereka juga akan berpapasan di kelas. Bukannya menjauh, Nina jadi seringkali hampiri Rani serta berlaku seperti umumnya. Hal semacam ini pasti buat Rani makin kikuk, sebab sedikit untuk sedikit ia mulai tidak suka pada rekannya yang satu ini.

Usaha keras yang terlihat

Rani terasa hidup Nina demikian gampang serta mengasyikkan, bahkan juga walau Nina tampak enjoy saja waktu belajar di kelas, Nina tetaplah dapat kerjakan semuanya masalah serta menjawab pertanyaan guru dengan gampang. Semua tampak begitu gampang untuk Nina, bahkan juga gampang sekali pada pandangan Rani. Pemikiran begini menempati hati Rani sepanjang sekian waktu, sampai pada akhirnya satu hari ia berkunjung ke tempat tinggal rekannya itu.

Telah 2 hari Nina sakit serta tidak masuk sekolah, sampai pada akhirnya Rani serta sebagian orang rekan dan wali kelasnya mengambil keputusan untuk mengunjunginya dirumah. Ini untuk pertama kalinya Rani pergi ke tempat tinggal Nina, letaknya nyatanya cukup jauh serta mesti melalui gang-gang yang sempit di ujung kampung. Sekitaran 10 km., Nina mengayuh sepedanya sehari-hari ke sekolah. Gurunya yang tinggal di lokasi itu tahu serta kenal dengan orang-tua Nina yang nyatanya cuma seseorang tukang sampah keliling di komplek rumah gurunya itu. Nina masuk SMA yang sama juga dengan Rani atas referensi sang guru pada pihak yang memiliki yayasan hingga ia di beri peluang untuk turut test serta memperoleh beasiswa. Tidak cuma karna sebatas kenal saja, tetapi karna Nina senantiasa berprestasi mulai sejak duduk di bangku SD.

Rani tiba di halaman satu tempat tinggal yang rapi dan bersih, komplit dengan deretan botol minuman yang sudah ditanami bunga berwarna-warni. Bangunannya demikian simpel, luasnya bahkan juga tidak lebih dari 6×5 mtr. saja. Nina duduk dimuka sembari memegang buku pelajarannya, sedikit kaget lihat kehadiran rekan-rekan serta wali kelasnya. Sebagian tumpukan buku berjejer di samping dianya, kelihatannya semuanya buku sisa, mungkin yang dihimpun oleh ayahnya saat menyatukan sampah.

Rani nyaris tidak yakin, nyatanya rekannya yang sakit itu tengah pelajari buku matematika mereka pada bab ke-16 serta itu bab yang paling akhir di kelas satu. Sesaat di sekolah, mereka bahkan juga barusan masuk bab ke-7 minggu kemarin. Nina telah pelajari nyaris semuanya isi buku matematika itu dirumah, komplit dengan kajian soal-soalnya. Rani malu pada dianya dan sikapnya sampai kini, sebab prestasi Nina nyatanya diperoleh dari usaha kerasnya yang tidak sempat ditunjukkannya.

Ini hanya satu narasi fiktif, namun dari narasi ini dapat kita ambillah rangkuman. Apa yang kita saksikan gampang pada orang yang lain belum juga pasti semudah yang kita pikirkan. Karna apa pun yang menginginkan kita capai memerlukan satu usaha, satu usaha keras. serta ingat-ingatlah kalau hidup itu tidak semudah yang anda pikirkan. Semoga kisah inspiratif kehidupan nyata bermanfaat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s